Pages

Monday, April 4, 2011

Management Emosi (bagian pertama)

Mungkin diantara kita semua pernah merasa malas, kehilangan gairah, dan semangat didalam menjalani sesuatu. Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga untuk memotivasi diri sendiri, tapi tetap saja seolah-olah masih terasa ada sesuatu kurang didalam diri kita. Artikel dan bacaan motivasi sudah dilalap habis, hasilnya sama sekali belum memberikan efek yang diinginkan. Motivasi mungkin muncul diawal, tetapi sulit utuk mempertahankannya.

Bisa jadi hal ini dikarenakan inkonsistesi kondisi emosional diri kita, dimana kondisi emosional mudah naik maupun turun (moody). Ketika melakukan suatu hal bergantung kepada mood pada saat itu. Saat mood sedang baik, maka baik pula hasil kerja kita. Sebaliknya, apabila mood sedang buruk, berpengaruh buruk pula terhadap hasil kerja kita.

Didalam dunia nyata, kita dituntut untuk sekonsisten mungkin didalam melakukan banyak hal. Baik dalam pekerjaan, rumah tangga, hubungan sosial, dan lain sebagainya. Konsistesi didalam memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan, adalah suatu bentuk tanggung jawab terhadap komitment yang telah kita buat. Baik komitmen terhadap sebuah organisasi/lembaga, maupun komitmen dengan manusia lainnya. Apabila suatu hal yang kita lakukan bergantung kepada mood (moody), maka hal tersebut dapat dipandang orang lain sebagai rendahnya tanggung jawab kita terhadap sebuah komitmen.

Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin ada baiknya apabila kita mencoba untuk mencari tahu mengenai cara kerja otak kita. Hal ini dikarenakan motivasi, semangat, rasa malas, mood, dan lain sebagainya bersumber dari dalam pikiran kita. Organ tubuh yang paling berkaitan erat dengan pikiran kita, adalah otak kita. Mudah-mudahan dengan mengenal otak kita sendiri, akan membuat kita lebih memahami tentang pikiran kita. Apabila telah faham dengan pikiran kita sendiri, artinya kita dapat memahami tentang diri kita sendiri. Bagaimamapun sebuah perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.

Otak manusia, secara umum terbagi menjadi tiga bagian, yaitu;
• Batang, atau yang biasa disebut otak reptilia.
• Sistem Limbik, atau yang biasa disebut otak mamalia.
• Neokorteks, atau yang biasa disebut otak berfikir.
Otak reptilia itu memiliki fungsi motor sensorik, keinginan untuk mempertahankan hidup, dan mekanisme "hadapi atau lari". Otak mamalia lebih berkaitan dengan perasaan/emosi, memori, bioritmik, dan sistem kekebalan. Sedangkan otak berfikir, lebih menyangkut dengan berfikir intelektual, penalaran, perilaku waras, bahasa, dan hal-hal yang berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.

Dari sini dapat kita lihat keterkaitan antara emosi/perasaan dengan fisiologis tubuh, seperti daya ingat, sistem kekebalan, ritme kerja tubuh, dll. Semua itu diatur didalam bagian otak yang sama, yaitu sistem limbik atau bagian yang sering disebut sebagai otak mamalia. Oleh karena itu, apabila kita memiliki emosi yang positif hal tersebut akan berpengaruh positif terhadap kerja dari organ tubuh kita. Hal ini akan membuat kita lebih siap didalam menjalani dinamika kehidupan. Sehingga orang-orang yang memiliki emosi positif cenderung memiliki kinerja yang lebih baik.

Permasalahannya adalah bagaimana mempertahankan emosi yang positif tersebut, sehingga tidak cenderung moody (mudah berubah mood)?
Langkah pertama, kita harus menumbuhkan emosi positif. Pertama marilah sejenak, kita mencoba mengingat hal-hal yang telah kita lalui. Mulai dari saat kita kecil, sampai dengan saat ini.

Adakah sebuah peristiwa masa kecil, yang kita masih mengingatnya hingga saat ini? Sewaktu kita mulai memasuki dunia sekolah, baik itu TK ataupun SD. Kejadian-kejadian apa saja yang sudah kita lalui didalamnya? Siapa saja teman-teman yang satu kelas dengan kita? Masihkah kita mengenal nama-nama mereka? Sewaktu kita seusia itu, permainan apa saja yang sering kita lakukan? Dengan siapa? Setelah itu kita mulai menginjak SMP, diantara dari kita mungkin mulai belajar menyukai lawan jenis. Ada banyak kisah yang kita lalui disana. Setelah itu kita memasuki masa-masa putih abu, atau menurut sebagian orang adalah masa-masa terindah yang pernah mereka lalui. Yupz, itulah masa-masa SMA. Kuliah,berkerja dst..., sampai dengan saat ini.

Sebuah memori milik kita sendiri, hanya milik kita sendiri. Setiap orang memiliki memorinya masing-masing, karena setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Perjalanan hidup yang dilalui seseorang, sangat berperan bagi orang tersebut untuk menilai dirinya sendiri. Keyakinan, pandangan, penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, dinamakan sebagai konsep diri.

Konsep diri yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap emosi yang dimilikinya. Seseorang yang memiliki konsep diri positif, cenderung memiliki emosi yang positif. Begitupula sebaliknya, seseorang yang memiliki konsep diri negatif, cenderung memiliki emosi negatif. Jadi, hal pertama yang harus dilakukan agar memiliki emosi yang positif, adalah dengan memiliki konsep diri yang positif. Bagaimana bisa kita memiliki emosi yang positif, apabila kita menilai diri kita sendiri negatif?

Apabila terlanjur memiliki konsep diri yang negative, apa yang harus kita lakukan? Sedangkan konsep diri itu terbentuk dari perjalanan hidup yang kita lalui. Ada RAHASIA BESAR yang harus kita ketahui, bahwa ternyata konsep diri itu sifatnya dinamis. Artinya, ia tidak luput dari yang namanya perubahan. Oleh karena itu kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa terkait dengan perjalanan hidup yang telah lalui. Yang harus kita lakukan adalah mulai membangun konsep diri yang positif.

Bagaimana cara membangun konsep diri yang positif?

Lihat talenta, bakat, dan potensi yang dimiliki. Ingat kembali pengalaman positif dan keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Mulai dari sekarang, mari kita mencoba menghargai diri sendiri, karena dengan menghargai diri sendiri, kitapun mulai dapat menghargai orang lain, dan pada akhirnya orang lainpun akan menghargai kita.

Sedapat mungkin hindari apa yang namanya pertentangan batin, karena hal ini akan mengakibatkan kelelahan secara mental, dan berujung pada rasa frustasi yang dalam. Hal ini biasanya diakibatkan oleh kesenjangan yang terjadi antara harapan dengan kenyataan yang terjadi.

Mulai dari sekarang mari kita mencoba mengendalikan pikiran kita. Cobalah memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Ada satu hal yang pasti, yaitu dibalik semua peristiwa yang menimpa kita terkandung hikmah didalamnya. Terkadang kita baru dapat memahami hikmah dari suatu peristiwa, apabila kita mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Untuk menumbuhkan konsep diri yang positif, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencoba melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif. Nah..., selamat mencoba. ^_^